Perkenalkan, saya adalah seorang warga biasa. Mohon maaf bagi warga biasa lainnya. Saya sungguh tak berniat menjadi wakil atau menjuluki diri sebagai wakil warga biasa sehingga sok-soknya menggunakan nama “warga biasa” (seperti di spanduk-spanduk kampanye aneh pada saat Pilkada atau Pemilu yang mengatasnamakan “Kami, rakyat anu mendukung si anu sebagai presiden/gubernur/bupati/walikota anu” padahal yang memasang spanduk itu hanya sebuah kelompok yang baru dibentuk khusus untuk keperluan kampanye).
Saya hanya ingin tak menyalahi kodrat dan menyalahi martabat sosial saya sebagai warga biasa. kalau saya menulis yang rumit-rumit, yang memerlukan analisis anu dan anu, berfilsafat nyentrik untuk menemukan bijih inti dari sebuah persoalan lalu menguraikannya dengan korelasi-korelasi yang canggih seperti orang yang pandai menulis … rasanya itu terlalu berat dan tidak jujur buat saya.
karena sebagai warga biasa, di tengah-tengah kesamarendahan dengan warga biasa lainnya yang sama sekali tidak punya kursi kedudukan untuk bisa ‘ancik-ancik’ guna melongok dengan pandangan yang lebih tinggi … ternyata saya masih bisa banyak berjumpa dengan hal-hal yang pantas seandainya direportasekan dari sudut pandang warga biasa.
Masalah penting atau tak penting …? akan menjadi versi saya saja. apabila ternyata sama pentingnya menurut Anda … mungkin hanya kebetulan saja.