saya setuju dengan kejernihan berpikir sebelum menilai persoalan.
bahwa anarkisme itu patut disesalkan, wajib hukumnya. khusus mengenai
kejadian 1 juni lalu, kita memang melihat itu sebagai bentuk
kekerasan. dan di negeri ini memang banyak sekali kekerasan. tetapi
ketika yang melakukan fpi, kenapa ramai2 orang menghujatnya. seakan
sentimen dan benci tak habis2.
saya sependapat dengan ajakan untuk melihat kekerasan yang dilakukan
oleh fpi tersebut bukan hanya kekerasan secara ansich. tetapi kita
harus mau melihat sebab dari kekerasan tersebut secara lebih obyektif.
dalam demo bbm oleh mahasiswa juga terjadi kekerasan, tetapi kenapa
kita tak ribut2 lagi? reformasi 97 pun menimbulkan kekerasannya luar
biasa, tapi kita memakluminya. namun ketika kekerasan itu di zoom in
oleh kamera dan yang melakukannya adalah orang2 berkopiah putih,
orang2 menjadi phobia dan ramai2 menimpukinya dengan batu hujatan.
rekan, ada asap ada api. kekerasan demo bbm ada sebabnya (bbm naik).
kekerasan ketika reformasi pun ada sebabnya (rezim korup selama 32
tahun). nah, kekerasan 1 juni kemarin pasti juga ada sebabnya.
dan tentang minggu kemarin itu, seharusnya yang buru2 minta maaf
adalah negara. karena negara sangat bertele2 untuk mengeluarkan skb.
skb itu nantinya bisa berisi melarang atau membolehkan ahmadiyah di
Indonesia, tapi yang jelas ada sikap yang tegas agar ada kepastian.
mengenai kebebasan beragama, sebenarnya sederhana saja. kalau memang
Ahmadiyah benar meyakini ada nabi baru, lebih baik memang tidak
menjadi golongan dari Islam. sebaiknya menjadi aliran kepercayaan
saja, mungkin lebih aman dan pasti dilindungi undang2.
Filed under: Uncategorized