BBM Naik, So What?

BBM sudah pasti naik. “Ya sudahlah .. mas,” begitu rata2 komentar
orang yang iseng saya tanyai tentang kenaikan BBM. Sopir angkot,
tukang ojeg, penjual sayur, hingga tukang gorengan.

Semakin saya bertanya, semakin saya berkesimpulan betapa hebat
masyarakat kita, kuat dan sabar tak terkira. Atau jangan2 sudah berada
pada satu kondisi pasrah tiada tara hingga tak berharap apa2 dari
pemerintahnya. Berkali-kali diperas dan ditimpai beban berat, ditipu
oleh pamong2nya sendiri yang korupsi sambil berhihahihi, diperas
ketika mengurus ini itu di kantor pelayanan publik, dan untuk kesekian
kali … harus membeli kekayaan alamnya sendiri (minyak) dengan harga
yang semakin mahal.

Sebagian masyarakat tak akan pernah paham dengan logika kenaikan harga
BBM. Sesuatu yang tampaknya sederhana “lho, kita kan kaya minyak”
menjadi seolah-olah ruwet dan memusingkan setelah mendengar penjelasan
pemerintah.
Masyarakat pun sering bingung dengan logika-logika Jakarta, yang
katanya PLN rugi lalu listrik harus naik, Pertamina rugi padahal ia
satu2nya perusahaan minyak negara dan monopoli – lalu untuk itu
subsidi diteruskan demi menggaji pegawai2nya dengan standar yang tetap
tinggi dan sebagian bahkan korup tak kira2.

Yang berwiraswasta pasti sering gregetan tapi hanya bisa mengumpat:
setiap kali ada proyek dari pemerintah 40% anggaran dikembalikan ke
pejabat dan orang2 yang ngasih proyek itu sebagai “uang balas budi”.
Saya sendiri haqul yakin, 95 % anggaran belanja dan pembangunan
pemerintah seluruhnya telah disunati seperti ini, dan sungguh mulia
mereka karena tak pernah merasa telah berkorupsi (artinya tanpa pak
ogah-bu ogah itu, negara kita sebenarnya bisa menghemat 40 % anggaran
belanja setiap tahun – berlaku di pusat maupun daerah. belum lagi
ditambah penghematan listrik, kendaraan, baju dinas, fasilitas mewah,
dll … rasanya harga BBM bisa tidak perlu naik seperti ini).

Contoh lain yang bisa bikin geregetan? Pastilah bakal buanyak lagi,
tapi ya sudahlah kalau mau menambahi silahkan ditulis sendiri.

Logika2 tadi tampak sederhana, tapi memang menjadi ruwet ketika
disandingkan dengan kenyataan sehari2. Kenapa hal sepele seperti itu
saja pemerintah yang kita gaji dan jamin kehidupannya dari pajak tak
bisa mengatasi?

“Kira2 bakal berat nggak BBM naik?”

“Berat sudah pasti, tapi … ya sudahlah,” begitu jawab orang2 yang
saya tanyai.

“Ya .. sudahlah”. Sebuah pernyataan singkat yang susah diraba apa arti
sebenarnya.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.