Di sebuah desa metropolis bernama Jatinangor, angin berita mudah sekali berhembus. Dari sebuah kompleks pendidikan calon praja bernama IPDN, tak bosan2 yang terhembus dari sana hanya mimpi buruk.
Konon, kebodohan dan kekonyolan adalah hak ekslusif keledai untuk menyandangnya. Kalau ada yang berbuat salah, lalu salah lagi untuk kedua kalinya, semerta-merta ungkapan yang meluncur adalah “Hanya keledai yang terperosok dalam lubang yang sama dua kali”. Seketika orang yang dibilang seperti itu akan menjadi sangat malu, dan .. kalau tidak putus asa lalu mengurung diri, orang itu akan punya energi luar biasa untuk mengubah diri dan perilakunya agar tidak salah untuk kedua kali. Ia menjadi waspada. Kalau toh salah lagi, dia akan cepat berbuat sesuatu yang dapat memperbaikinya.
Tapi mahkota kebodohan dan kekonyolan ternyata bukan lagi hak tunggal keledai untuk memakainya. Manusia juga. Dan sepertinya, keledai pun sudah minder untuk terlalu berbangga dengan gelar bodoh dan konyol yang sejak beribu tahun disandangnya itu. Apalagi, kalau di Jatinangor ada keledai, mungkin mereka memilih bunuh diri atau menyamar menjadi kambing karena malu dengan sebuah gerombolan bernama IPDN.
Saya rasa semua juga sudah tahu beritanya. Mengenai kekerasan bertubi-tubi. Sudah banyak anak muda mati di sana, yang berhasil selamat menurun kecerdasannya, dan sisanya yang lain malah jadi kosong pikiran dan hatinya.
Tulisan ini tanpa saya sisipi dengan ide apalagi solusi. Karena telah terlalu banyak tawaran solusi atau seminar2 yang membahas solusi untuk IPDN. Terlalu banyak silat lidah dari pihak pemerintah maupun IPDN, yang lama kelamaan tidak semakin menunjukkan kecerdasan, bahkan sebaliknya. Karena itu, apalah arti ide saya, meskipun sekadar dalam sebuah blog.
Percuma berteriak kepada orang tuli karena kebodohannya sendiri. Percuma memberi pendapat kepada gerombolan yang menjadi kelihatan sangat bodoh karena mereka merasa pintar sendiri.
Filed under: Uncategorized
Cool…..but a little bit dry…