Jangan-jangan, kita memang sedang butuh berperang. Perang dalam arti sesungguhnya, angkat senjata, menghadapi musuh, bertempur, dan mempertaruhkan jiwa raga. Kita perlu musuh yang bisa dibenci bersama dan menjadi luapan emosi penghancuran, yang mampu membangkitkan semangat koloni kita untuk bertahan hidup dengan cara menyingkirkan ancaman dari luar. Kita perlu hukum perang nenek moyang dulu, yang berbunyi: Merdeka atau Mati.
Ini bukan kiasan semata, karena saya tak sedang berusaha menulis dengan bijak.
Kita tidak sedang berperang melawan korupsi, kemiskinan, pembodohan, kecurangan, ketidakadilan, ataupun melawan apa saja yang sering kita dengarkan jargonnya di mana-mana itu. Semuanya tadi sudah terlalu kuno, cukup kadaluarsa dan membosankan untuk didengar berulang-ulang setiap hari. Lagi pula, semuanya terbukti tidak efektif untuk terjadinya peperangan yang sesungguhnya. Siapa menang siapa kalah tidak jelas, hasilnya pun tak pernah ketahuan. Semua lawan yang saya sebutkan tadi tetap bahkan semakin eksis, sementara kita tak pernah merasakan suasana perang. Kita terperdaya dengan suasana “damai” padahal aslinya kita sedang dibius dengan dosis tinggi, dibuat mual dan tak mampu melawan.
Kita butuh perang yang membangkitkan seluruh kejantanan penduduk negeri ini untuk bangkit, mengangkat apapun yang ada di sekitarnya untuk dijadikan senjata perlawanan. Bersatu dan berteriak, “SERAAANNNGGG!!!! SERBUUUUU!!! REBUTTTTTT!!!”.
Dan untuk itu kita butuh lawan. Kita tidak lagi berperang melawan koruptor, pencipta ketidakadilan, pejabat yang congkak, atau politisi busuk yang membuat negeri ini tercerai berai dan terperkosa berkali-kali. Kita butuh medan pertempuran yang nyata. Di situ akan kelihatan, mana pejuang sejati dan pengkhianat. Mana katanya yang selama ini membela rakyat dan disumpah di bawah kitab suci untuk setia pada negara. Mana yang sejati, mana yang terkencing-kencing tunggang langgang kebingungan lari dari medan perang, mengumpet dan menyamar pakai daster biar dikira perempuan lemah tak berdaya untuk ikut berperang.
Sekali lagi, kita butuh perang. Kalau perlu, menyerang sebelum diserang. Saya rasa, Amerika tau teori ini sejak dulu, makanya mereka rajin menciptakan perang.
Filed under: Uncategorized