sayang, padahal mereka punya potensi jadi ummat Islam yang taat, seandainya saja tidak dirusak keyakinannya oleh nabi-nabian konyol yang membuat suasana jadi ruwet.
ramainya negeri ini. masalah datang silih berganti.
salah satu saja dulu. di televisi, sebuah program baru saja lewat. ada persilatan lidah soal Ahmadiyah. cukup aneh. Ahmadiyah dibela habis-habisan karena dianggap melanggar kebebasan beragama. pertanyaannya, apakah Ahmadiyah agama? kalau Agama, apakah Islam? kalau Islam, apakah ada Islam versi lain yang mengakui ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad? kalau ternyata memang ada orang Islam yang mengaku ada nabi setelah nabi Muhammad, apakah itu masih wajar?
saya tidak mengaji terlalu banyak hingga ke pesantren, apalagi sampai ke mesir. tetapi dari kecil sudah paham dari guru ngaji iqro’ saya yang sederhana, nabi Muhammad adalah penutup para nabi. AlQuran sangat jelas menyuratkan hal tersebut. anak kecil juga tahu itu. tapi kini, saat Ahmadiyah dianggap menyimpang dan sebaiknya dibubarkan, sebagian orang Islam bahkan tidak ingin Ahmadiyah dibubarkan. sebaliknya, harus dibela dan dilindungi sebagai wujud kebebasan beragama, dalilnya UUD, negara Indonesia adalah negara hukum. bagi yang menggunakan dasar kebebasan beragama. berarti Ahmadiyah adalah agama. dan kalau bicara agama, bukankah sebaiknya kita tanya para ulama dan orang-orang yang tahu tentang ilmu agama dan lurus jalannya? kemudian, MUI dan sebagian besar kiai/ulama telah memfatwakan Ahmadiyah sesat/menyimpang. bagi saya, urusan beres. MUI dan para ulama telah melakukan tugasnya. tapi, tetap saja ada yang mengabaikan fatwa itu, bahkan orang islam sendiri. alamak, apakah ulama jaman sekaran sudah tak perlu ditaati lagi? berani nian ummat jaman sekarang. seperti yang tak bakal mati dan bertemu Allah saja.
tapi saya kasihan juga dengan Ahmadiyah. selain masjid2nya dirusak (dzalimnya orang yang merusak mesjid), rumah2nya dibakar (ini juga dzalim), mereka juga perlu dikasihani kalau ingat akhirat. bagaimana mereka mempertanggungjawabkan keyakinannya itu, yang padahal Allah dalam Alquran secara tegas mengatakan tak ada nabi lain lagi setelah Muhammad. sayang, padahal mereka punya potensi jadi ummat Islam yang taat, seandainya saja tidak dirusak keyakinannya oleh nabi-nabian konyol yang membuat suasana jadi ruwet.
Filed under: Uncategorized
Perkenalkan saya Irenaeus Ahmad, seorang Muslim Ahmadi.
Pada prinsipnya kami meyakini bahwa Allah itu Maha Hidup. Dia tidak akan berhenti bercakap-cakap dengan hamba-hamba pilihannya, hanya karena Ulama-ulama sedunia bilang hubungan itu sudah putus sekarang.
Agama Islam dan Kitab Suci Al Qur’an boleh menjadi agama dan kitab suci tersempurna dan karenanya yang terakhir. Tetapi apakah tingkat keimanan dan tingkat ukhuwah islamiyah selalu sama? Di awal sejarah Islam saja, umatnya sudah terpecah jadi Sunni dan Syiah, dan terus terpecah belah sampai sekarang.
Sebagaimana Sunnatullah di zaman-zaman terdahulu, setiap kali umat manusia mengalami kemunduran iman kepada-Nya dan penurunan kualitas akhlak kepada sesama manusia, Dia akan mengutus orang-orang pilihan-Nya untuk mengingatkan manusia kepada Allah SWT.
Bacalah sejarah umat nabi-nabi terdahulu. Mereka selalu mengklaim tidak akan ada nabi setelah mereka. Mereka juga mengatakan klaim hujah mereka berdasarkan kitab suci mereka. Apakah Anda yakin keterakhiran kenabian Nabi Muhammad saw bukan karena ‘salah penafsiran’?
Yah memang Ulama yang menafsirkan demikian. Para Ulama selalu mengklaim mereka adalah Pewaris Nabi, tapi mereka menilai dirinya terlalu tinggi seakan-akan kata-kata mereka adalah kata-kata Nabi saw sendiri. Tahukah Anda bahwa Nabi juga bersabda bahwa banyak Ulama di Akhir Zaman yang akan menjadi makhluk terburuk dimuka (Hadist Bukhari) karena akhlak dan perilakunya.
Silahkan ditelaah lanjut di pdf ini kenapa kami berkeyakinan bahwa walau syariah Islam adalah syariah tersempurna dan terakhir, bukan berarti Allah tidak akan mengirim utusan-utusan selanjutnya untuk mengingatkan umat manusia untuk kembali kepada Islam.
http://www.alislam.org/holyprophet/Finality%20of%20Prophethood%20-%2020080423MN.pdf
Jazakumullah ahsanul jaza,
Irenaeus Ahmad