Ahmadiyah oh Ahmadiyah (kasihan FPI dan Gusdur)

saya setuju dengan kejernihan berpikir sebelum menilai persoalan.
bahwa anarkisme itu patut disesalkan, wajib hukumnya. khusus mengenai
kejadian 1 juni lalu, kita memang melihat itu sebagai bentuk
kekerasan. dan di negeri ini memang banyak sekali kekerasan. tetapi
ketika yang melakukan fpi, kenapa ramai2 orang menghujatnya. seakan
sentimen dan benci tak habis2.

saya sependapat dengan ajakan untuk melihat kekerasan yang dilakukan
oleh fpi tersebut bukan hanya kekerasan secara ansich. tetapi kita
harus mau melihat sebab dari kekerasan tersebut secara lebih obyektif.

dalam demo bbm oleh mahasiswa juga terjadi kekerasan, tetapi kenapa
kita tak ribut2 lagi? reformasi 97 pun menimbulkan kekerasannya luar
biasa, tapi kita memakluminya. namun ketika kekerasan itu di zoom in
oleh kamera dan yang melakukannya adalah orang2 berkopiah putih,
orang2 menjadi phobia dan ramai2 menimpukinya dengan batu hujatan.

rekan, ada asap ada api. kekerasan demo bbm ada sebabnya (bbm naik).
kekerasan ketika reformasi pun ada sebabnya (rezim korup selama 32
tahun). nah, kekerasan 1 juni kemarin pasti juga ada sebabnya.

dan tentang minggu kemarin itu, seharusnya yang buru2 minta maaf
adalah negara. karena negara sangat bertele2 untuk mengeluarkan skb.
skb itu nantinya bisa berisi melarang atau membolehkan ahmadiyah di
Indonesia, tapi yang jelas ada sikap yang tegas agar ada kepastian.

mengenai kebebasan beragama, sebenarnya sederhana saja. kalau memang
Ahmadiyah benar meyakini ada nabi baru, lebih baik memang tidak
menjadi golongan dari Islam. sebaiknya menjadi aliran kepercayaan
saja, mungkin lebih aman dan pasti dilindungi undang2.

Kucing Istri Gubernur

Di sekitar kita memang banyak sekali hal yang lucu.

Coba simak berita di sini: http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://

www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/23/time/155058/idnews/943969/idkanal/10

Ceritanya, istri gubernur Riau kehilangan kucing kesayangan. Saking merasa kehilangan dan ingin ia kembali, sampai memasang iklan sayembara brehadian bagi yang menemukan di harian ternama di Riau.

Kucing adalah kucing. Bagus sekali kita menyayanginya, karena itu tandanya seseorang berhati lembut dan penuh kasih sayang.

Tapi, kali ini kok di dalam hati saya merasa ada yang lucu sekaligus bikin eneg ya. Hm … lagi2 hanya bisa maklum, namanya juga istri gubernur.

Berantas Korupsi? Tirulah Telkom dan PLN

Kalau ingin belajar caranya memberantas koruptor, pengemplang, menindak pelaku kejahatan tanpa pandang bulu, tegas, dan tak berperasaaan sebaiknya tirulah cara telkom, telkomsel dan pln.

perusahaan bapak-anak dan satu perusahaan anak emas negara ini begitu konsisten dan cepat dalam menindak para pelaku “kejahatan” seperti tersebut di atas. pun, ketika kejahatan-kejahatan tersebut baru dalam dugaan. telkom dan telkomsel tak pernah pandang bulu. tak pernah ada ruang negosiasi bagi siapapun yang ditenggarai pontensial sebagai pengemplang.

Read more »

BBM Naik, So What?

BBM sudah pasti naik. “Ya sudahlah .. mas,” begitu rata2 komentar
orang yang iseng saya tanyai tentang kenaikan BBM. Sopir angkot,
tukang ojeg, penjual sayur, hingga tukang gorengan.

Semakin saya bertanya, semakin saya berkesimpulan betapa hebat
masyarakat kita, kuat dan sabar tak terkira. Atau jangan2 sudah berada
pada satu kondisi pasrah tiada tara hingga tak berharap apa2 dari
pemerintahnya. Berkali-kali diperas dan ditimpai beban berat, ditipu
oleh pamong2nya sendiri yang korupsi sambil berhihahihi, diperas
ketika mengurus ini itu di kantor pelayanan publik, dan untuk kesekian
kali … harus membeli kekayaan alamnya sendiri (minyak) dengan harga
yang semakin mahal.

Sebagian masyarakat tak akan pernah paham dengan logika kenaikan harga
BBM. Sesuatu yang tampaknya sederhana “lho, kita kan kaya minyak”
menjadi seolah-olah ruwet dan memusingkan setelah mendengar penjelasan
pemerintah.
Masyarakat pun sering bingung dengan logika-logika Jakarta, yang
katanya PLN rugi lalu listrik harus naik, Pertamina rugi padahal ia
satu2nya perusahaan minyak negara dan monopoli – lalu untuk itu
subsidi diteruskan demi menggaji pegawai2nya dengan standar yang tetap
tinggi dan sebagian bahkan korup tak kira2.

Yang berwiraswasta pasti sering gregetan tapi hanya bisa mengumpat:
setiap kali ada proyek dari pemerintah 40% anggaran dikembalikan ke
pejabat dan orang2 yang ngasih proyek itu sebagai “uang balas budi”.
Saya sendiri haqul yakin, 95 % anggaran belanja dan pembangunan
pemerintah seluruhnya telah disunati seperti ini, dan sungguh mulia
mereka karena tak pernah merasa telah berkorupsi (artinya tanpa pak
ogah-bu ogah itu, negara kita sebenarnya bisa menghemat 40 % anggaran
belanja setiap tahun – berlaku di pusat maupun daerah. belum lagi
ditambah penghematan listrik, kendaraan, baju dinas, fasilitas mewah,
dll … rasanya harga BBM bisa tidak perlu naik seperti ini).

Contoh lain yang bisa bikin geregetan? Pastilah bakal buanyak lagi,
tapi ya sudahlah kalau mau menambahi silahkan ditulis sendiri.

Logika2 tadi tampak sederhana, tapi memang menjadi ruwet ketika
disandingkan dengan kenyataan sehari2. Kenapa hal sepele seperti itu
saja pemerintah yang kita gaji dan jamin kehidupannya dari pajak tak
bisa mengatasi?

“Kira2 bakal berat nggak BBM naik?”

“Berat sudah pasti, tapi … ya sudahlah,” begitu jawab orang2 yang
saya tanyai.

“Ya .. sudahlah”. Sebuah pernyataan singkat yang susah diraba apa arti
sebenarnya.

Keledai asli Jatinangor

Di sebuah desa metropolis bernama Jatinangor, angin berita mudah sekali berhembus. Dari sebuah kompleks pendidikan calon praja bernama IPDN, tak bosan2 yang terhembus dari sana hanya mimpi buruk.

Konon, kebodohan dan kekonyolan adalah hak ekslusif keledai untuk menyandangnya. Kalau ada yang berbuat salah, lalu salah lagi untuk kedua kalinya, semerta-merta ungkapan yang meluncur adalah “Hanya keledai yang terperosok dalam lubang yang sama dua kali”. Seketika orang yang dibilang seperti itu akan menjadi sangat malu, dan .. kalau tidak putus asa lalu mengurung diri, orang itu akan punya energi luar biasa untuk mengubah diri dan perilakunya agar tidak salah untuk kedua kali. Ia menjadi waspada. Kalau toh salah lagi, dia akan cepat berbuat sesuatu yang dapat memperbaikinya.

Tapi mahkota kebodohan dan kekonyolan ternyata bukan lagi hak tunggal keledai untuk memakainya. Manusia juga. Dan sepertinya, keledai pun sudah minder untuk terlalu berbangga dengan gelar bodoh dan konyol yang sejak beribu tahun disandangnya itu. Apalagi, kalau di Jatinangor ada keledai, mungkin mereka memilih bunuh diri atau menyamar menjadi kambing karena malu dengan sebuah gerombolan bernama IPDN.

Saya rasa semua juga sudah tahu beritanya. Mengenai kekerasan bertubi-tubi. Sudah banyak anak muda mati di sana, yang berhasil selamat menurun kecerdasannya, dan sisanya yang lain malah jadi kosong pikiran dan hatinya.

Tulisan ini tanpa saya sisipi dengan ide apalagi solusi. Karena telah terlalu banyak tawaran solusi atau seminar2 yang membahas solusi untuk IPDN. Terlalu banyak silat lidah dari pihak pemerintah maupun IPDN, yang lama kelamaan tidak semakin menunjukkan kecerdasan, bahkan sebaliknya. Karena itu, apalah arti ide saya, meskipun sekadar dalam sebuah blog.

Percuma berteriak kepada orang tuli karena kebodohannya sendiri. Percuma memberi pendapat kepada gerombolan yang menjadi kelihatan sangat bodoh karena mereka merasa pintar sendiri.

Indonesia Butuh Perang

Jangan-jangan, kita memang sedang butuh berperang. Perang dalam arti sesungguhnya, angkat senjata, menghadapi musuh, bertempur, dan mempertaruhkan jiwa raga.  Kita perlu musuh yang bisa dibenci bersama dan menjadi luapan emosi penghancuran, yang mampu membangkitkan semangat koloni kita untuk bertahan hidup dengan cara menyingkirkan ancaman dari luar. Kita perlu hukum perang nenek moyang dulu, yang berbunyi: Merdeka atau Mati.

Ini bukan kiasan semata, karena saya tak sedang berusaha menulis dengan bijak.

Kita tidak sedang berperang melawan korupsi, kemiskinan, pembodohan, kecurangan, ketidakadilan, ataupun melawan apa saja yang sering kita dengarkan jargonnya di mana-mana itu. Semuanya tadi sudah terlalu kuno, cukup kadaluarsa dan membosankan untuk didengar berulang-ulang setiap hari. Lagi pula, semuanya terbukti tidak efektif untuk terjadinya peperangan yang sesungguhnya. Siapa menang siapa kalah tidak jelas, hasilnya pun tak pernah ketahuan. Semua lawan yang saya sebutkan tadi tetap bahkan semakin eksis, sementara kita tak pernah merasakan suasana perang. Kita terperdaya dengan suasana “damai” padahal aslinya kita sedang dibius dengan dosis tinggi, dibuat mual dan tak mampu melawan.

Read more »

Zaman Emas Indonesia

Percaya ini terjadi? Saya percaya ….

Kompas Sabtu, 12 April 2008
Jakob Sumardjo

Kapan waktunya dan siapa presidennya, belum diketahui. Namun, keberadaannya jelas karena logikanya juga jelas, yaitu potensi alamnya yang luar biasa, dan jumlah penduduknya yang begini besar tak mungkin g*o*b*l*o*k* semua.

Saat itu presidennya tegas dan keras, tidak takut mati dan tidak takut kehilangan pendukungnya. Hatinya baik, tidak ada pikiran uang sama sekali karena sejak bayi sudah kaya-raya. Ketegasannya mendapat dukungan seluruh rakyat miskin di Indonesia, yaitu dalam melenyapkan korupsi, kejahatan dasar yang membuat negara ini hampir saja pecah belah.

Koruptor yang diketahui menilep uang negara satu miliar ke atas langsung dihukum mati karena yang antre untuk diadili begitu panjang. Koruptor di atas setengah miliar dipotong tangannya dan dipenjara seumur hidup. Yang korup seratus juta ke bawah dihukum seumur hidup. Khusus perkara korupsi tidak ada naik banding menurut hukum negara yang disetujui DPR, yang anggota-anggotanya cerdas, baik hati, tak banyak bicara, tetapi lebih banyak berpikir.

Read more »

Tentang BBM: Saling Menyalahkan

Pada sebuah senja selepas maghrib, saya ber-chating dengan seorang kawan. ia bekerja di sebuah departemen pemerintah. boleh jadi kurang penting, tapi beginilah jadinya:

(5:58:31 PM) teman: halo
(6:09:02 PM) saya: halo mas
(6:11:23 PM) teman: apa kabar…
(6:11:33 PM) saya: siap, baik2 pak
(6:11:39 PM) saya: sebaliknya gimana ni?
(6:12:33 PM) teman: baik, sedang sibuk ni…..
(6:13:02 PM) saya: g mas, sedang menikmati senja
(6:13:16 PM) saya: mas ini kali yang sibuk
(6:13:20 PM) saya: pak bos satu ini
(6:15:00 PM) teman: iya, lagi bahas temuan BPK….
(6:16:13 PM) saya: kelihatannya berat tuh
(6:16:38 PM) teman: gak, biasa, udah kerjaan…..
(6:17:15 PM) saya: g ikt rapat kenaikan harga bbm mas?
(6:17:51 PM) teman: naiklah, gila aja, apbn buat bayar subsidi, 200T
(6:18:01 PM) teman: bikin kaya org pertamina aja….
(6:18:40 PM) teman: berapapun harga bbm kan yg nikmati tetap pertamina
(6:19:34 PM) saya: g fear dong mas, bikin kaya pertamina, kita di bawah susah g karuan Read more »

Adegan Ciuman BCL

“Maaf, pelacur juga profesi. Mau kelas apapun dia, dari pinggir got sampai bintang tujuh.”

nonton televisi lama-lama membikin orang semakin muneg-muneg, mumet, mual tak karuan. beritanya aneh, informasinya konyol, dan sialnya semuanya dianggap normal. isi kepala diaduk-aduk, hati diobok-obok. mulai sinetron picisan sampai berita orang2 para seleb.

baru saja, di sebuah infotainment, ditayangkan bunga citra lestari (bcl) diujung perpecahan dengan pacarnya. gara-garanya, pacarnya yang orang malaysia itu cemburu karena bcl beradegan ciuman di film terbarunya. adegan ciuman, kini sedang tren di layar film kita.

Read more »

bbm naik? sedikit saja, kami perlu teladan

Kiranya negara bisa mewujudkan kemudahan untuk warganya hidup tenang, aman, dan bisa mencukupi kebutuhan pokoknya. sukur-sukur bisa punya rumah dan kendaraan sederhana saja. anak bisa sekolah sampai tinggi dan biaya kesehatan terjangkau. jangan khawatir, rakyat akan membayar lagi untuk semua kemudahan itu. kami tidak minta gratisan.

kenaikan harga bbm belum juga benar-benar diberlakuan, rencananya awal bulan depan. tapi harga bahan pokok sudah naik duluan. tak bisa menyalahkan pedagang. mereka juga manusia yang ikhtiarnya adalah berjulan. di mana2, tak mungkin berjualan merugi. beras, terigu, gula, sayur mayur, minyak, dst.

bagi yang punya kendaraan sendiri, harus merogoh lebih dalam dompet. seorang teman yang memakai mobil biasanya diisi pertamax kini beralih ke premium. ia tidak sendiri, pengguna pertamax yang lainnya pun kabarnya berbondong-bondong beralih ke premium yang disubsidi itu.

edan benar kondisi ini. pemerintah mengaku apbn terlalu terbebani karena menanggung subsidi bbm yang mencapai rp 200 triliun itu. negara bisa bangkrut kalau terus-terusan menanggung subsidi dalam jumlah luar biasa. apalagi harga minyak dunia semakin menggila. negara mengaku kepayahan.

apbn berat kok rakyat lagi yang pertama digencet untukmemikul. yang bikin bangkrut negara itu siapa? bukannya para pengelolanya sendiri? sebutlah koruptor yang pada masih merasa punya martabat itu.

selama ini sumber apbn juga dari rakyat. sekecil apapun, setiap rakyat bayar pajak. makan di warteg, naik bis ekonomi, naik ojeg, beli baju setahun sekali, bayar parkir, bayar telepon, listrik, bahkan ketika bayar rumah sakit sekalipun. semua rakyat nyumbang pajak.

rakyat tak pernah rewel, tak meminta fasilitas gratisan dan fasilitas ini itu dari negara. rakyat tak semanja anggota dpr, pejabat publik, dan para pegawai negara tak tau diri itu. rakyat tak pernah ngutil uang dari hutan, malakin bi, nyunatin anggaran impor beras dan gula, mark up anggaran rapat, karcis tol gratis, petentang-petenteng dengan mobil yang setiap tahun baru – entah itu mobil dinas maupun mobil hasil pendapatan yang tidak pernah jelas halal haramnya, dst. rakyat hanya memberi, dengan sedikit saja harapan: kiranya negara bisa mewujudkan kemudahan untuk warganya hidup tenang, aman, dan bisa mencukupi kebutuhan pokoknya. sukur-sukur kalau akhirnya bisa punya rumah dan kendaraan sederhana saja. anak bisa sekolah sampai tinggi dan biaya kesehatan terjangkau.

jangan khawatir, rakyat akan membayar lagi untuk semua kemudahan itu. kami tidak minta gratisan. rakyat tak pernah menjarah, rakyat tak pernah memelas balas budi. sekali lagi, sangat berbeda dengan para aparatur negara yang sedikit-sedikit merasa sudah banyak bekerja dan untuk itu merengek tunjangan dinaikkan.

hhh .., bapak2, ibu2, yang selalu berebut jadi memimpin bangsa ini di tingkat apapun, yang masuk jadi pns harus berjubel2 antri dan berebut jabatan, lelah rasanya hati ini. kondisi memang sulit, tapi sebenarnya hati kami akan sedikit adem andaikata ada teladan dari para pemimpin dan pegawai negara. teladan yang tidak hanya seperti iklan partai di televisi, di mana sang ketua umum tampak sangat peduli sekali dengan rakyat jelata: menyelimuti gelandangan, merangkul anak-anak di sekolah reyot, ikut mendorong metromini mogok, dst.

ah, andai kata itu benar2 terjadi. yang sering saya lihat kenyataannya malah jungkir baliknya itu. kesan congkak, jauh, dan sok bersih. sekali lagi, ibarat rakyat disurut menghemat, dihimbau prihatin, dan diminta bersabar … oleh orang-orang yang tak pernah kelihatan menghemat, hidup jauh dari prihatin, dan tak pernah merasa cukup dengan apa2 yang sudah dirampasnya dari rakyat.

innalilahi ….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.